Selasa, 31 Maret 2015

MATI DALAM HIDUP

BAB I
GURU KEHIDUPAN

Bagaimanakah caranya agar jiwa kita tidak terbelenggu pikiran dan perasaan ? Sehingga jiwa bisa tenang dan mensyukuri keberadaannya sebagai manusia. Kita harus belajar dari seorang guru yang memahami hakiki kehidupan. Lalu, siapakah guru itu? Secara etimologi kata guru berasal dari bahasa India yang berarti seseorang yang mampu memberi pelajaran tentang bagaimana cara lepas dari kesengsaraan. Status sosial orang sengsara bukan hanya terbatasnya tempat tinggal, makan, pakaian, finansial dan tidak bisa bersenang-senang. Tetapi juga terbelenggunya jiwa oleh pikiran dan perasaan dirinya sehingga tidak bisa hidup layaknya manusia merdeka. Dalam falsafah Jawa juga dijelaskan bahwa, guru sebagai sosok tauladan yang harus “digugu lan ditiru”. Digugu artinya bisa diikuti setiap nasihatnya, lan artinya dan (kata sambung dalam bahasa indonesia), serta ditiru artinya bisa diteladani setiap tingkah lakunya. Jadi, guru merupakan sosok manusia yang mempunyai multi talenta dan bertanggung jawab atas profesinya.
Apakah guru yang berkarakter dan mempunyai multi talenta masih bisa kita temukan di saat ini? Tentu saja masih ada, meskipun tinggal sedikit, dan sebagian besar hanya sebatas niat menjadi guru, tetapi fungsinya tidak lagi ideal. Kriteria guru ideal yang kharismatik di hadapan muridnya sudah mulai sulit didapatkan. Perannya mulai terkikis oleh proses pergeseran nilai-nilai budaya dan peradaban antar bangsa. Keberadaan guru dan fungsinya telah  banyak digantikan oleh teknologi modern.  Sekarang ini, Guru bukanlah satu-satunya sumber inspirasi dan agen perubahan bagi pelajar. Lihatlah kondisi masyarakat di sekitar kita, nilai-nilai budaya baru mulai bermunculan dan menutupi nilai budaya kita yang telah lama membumi. Budaya kita yang selama ini dikagumi bangsa di dunia, kini semakin pudar, terdesak dan jatuh satu per satu tak bisa bangkit, bahkan ada yang telah terkubur dan sulit dikenali lagi. Kehilangan nilai tersebut akan nampak jelas pada pelajar yang berada di lingkungan perkotaan.  Mereka semakin sulit mengenali dan membedakan antara nilai-nilai budaya sendiri dan asing. Padahal kebudayaan sendiri telah tumbuh bersama dirinya. Kemana hilangnya pesan mulia yang telah disampaikan guru-guru kita selama ini?  Pesan mulia telah  terabaikan sia-sia dan jatuh ke dasar jiwa-jiwa yang tak memahami arti kehidupan.
Kita sesungguhnya telah termatikan dalam hidup. Kita telah dibuat menjadi penonton yang pasif dalam menjalani kehidupan. Hanya sebatas melihat, mendengar, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Lihat dan lihatlah tayangan TV, surat kabar, internet, dan media elektronik lainnya, semua telah memperjelas, bahwa pesan guru yang sarat nasihat tidak sampai tujuan. Setiap tayangan mencerminkan kenyataan, bahwa proses pendidikan tidak berjalan baik. Sudut pandang pelajar dan guru semakin beragam dan sulit dipertemukan. Visi dan misi antar generasi sudah tidak sejalan arah dan tujuannya.Tongkat estafet dari tangan-tangan pendahulu kita yang mengandung pesan mulia dan menyejukkan jiwa tidak bisa berlanjut sempurna. Hembusan kebebasan berbudaya dan berpikir telah jauh merasuki alam bawah sadar para pelajar. Para pelajar bebas mengambil apa dan siapa saja sebagai guru. Yang penting sesuai jalan pikiran dan bermanfaat untuk dirinya, tanpa memikirkan efek yang ditimbulkan bagi yang lain. Jika demikian, secara tidak langsung peran guru dan pelajar semakin tidak kondusif. Proses pendidikan telah kehilangan jati diri ditelan perubahan zaman. Guru dan pelajar semakin kurang percaya diri dalam menjalankan profesinya. Proses pendidikan dan pembelajaran antara guru dan pelajar hanya sebatas formalitas yang dipaksakan tetapi sesungguhnya roh pendidikan kita telah jauh terseret arus globalisasi peradaban. Kita tak kuasa untuk menolak dan menghindarinya. Arus globalisasi begitu kuat untuk dihentikan dan membawa dampak perubahan tata kehidupan yang begitu cepat. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi. Kita telah terjebak dalam kegelapan hidup.  Maka kita harus menemukan cahaya yang bisa menembus kegelapan jiwa. Cahaya itu akan menjadi pemandu hidup yang siap mengajarkan segenap kemampuan dan memberi kejelasan arah untuk mencapai tujuan hidup hakiki.
Belajar kepada guru sejati yang mempunyai multi talenta, sangat arif dan bijaksana adalah salah satu pilihan yang harus kita ambil. Guru sejati itu adalah “Alam dengan Segenap Fenomenanya”. Alam secara langsung akan menyampaikan pengetahuan kepada kita dengan caranya. Setiap fenomena yang kita lihat dan alami adalah pertanyaan yang harus kita jawab. Alam sebagai guru sejati akan menginspirasi pikiran dan hati kita, sehingga kita disadarkan untuk membaca dan memahami dengan baik. Alam tanpa diminta akan mengantar dan membimbing kita mencapai kedewasaan diri. Jika demikian, jiwa kita akan terlayani dengan baik. Pikiran dan perasaan kita bisa berkreasi dan berfantasi secara bebas dalam keterbatasannya masing-masing, dan tidak terbelenggu oleh sesuatu yang tidak perlu. Jati diri menjadi kuat, pribadi yang berkarakter akan tumbuh dalam sikap kemandirian, dan tidak mudah terombang-ambing keadaan.
Bagaimanakah cara yang tepat untuk menyikapi keadaan yang sudah seperti ini ? Untuk menyikapinya, kita harus berjiwa besar dalam menjalani setiap peran. Terus berbuat yang bermanfaat sebagaimana matahari yang bergerak dinamis menyapa setiap jiwa yang merindukan kehidupan. Berpikir yang luas dan menyeluruh tentang sesuatu, sebagaimana kita melihat bumi sebagai bola. Tentu saja tidak cukup dari satu sudut pandang saja untuk mendapatkan kesan keseluruhan. Kita harus melihat dari arah pandang yang berbeda sehingga memperoleh kesan utuh bumi sebagai bola. Berjiwa besar harus bisa mendengar aspirasi, menerima masukan, cepat tanggap dalam mengambil keputusan yang sesuai harapan. Alam dengan sejuta peristiwanya telah mengajarkan pada kita. Apakah kita menyadari atau tidak, alam telah melakukan semuanya kepada kita dengan baik. Jika demikian, kita sekarang harus belajar dari fenomena alam, agar tahu arah dan tujuan hidup. Terus belajar kepada alam, karena pelajarannya tidak akan pernah habis dan usang. Alam tidak akan bosan memberikan pelajaran terbaiknya untuk kita. Rapatkan diri kepada alam sebagai sahabat tempat berbagi rasa syukur, dan jagalah kelestariannya sebagai wujud terimakasih kita.
Kita harus saling berbagi agar di antara kita saling memahami, bahwa semua memang telah berubah, namun tak perlu disesali. Kita harus berpikir revolusioner untuk mengembalikan roh pendidikan yang telah terkikis peradaban selama ini. Ke-Binekaan-an adalah kenyataan yang harus diterima sebagai bagian dari bangsa kita. Perbedaan bukanlah halangan untuk berubah lebih baik. Kita harus bisa mengubah cara pandang, bahwa perbedaan bukan penyebab munculnya permasalahan. Itu harus diluruskan, karena perbedaan adalah rahmat dari Tuhan. Dengan kehendak-Nya, semua telah diciptakan tidak ada yang sama, maka semestinya membenahi pola pikir untuk menyesuaikan keadaan, agar kehidupan kita selaras dengan kehendak Tuhan.
Kita harus sama-sama belajar menyikapi keadaan ini. Jangan mudah putus asa, tetaplah menjalani peran hidup sebatas kemampuan sambil terus mencari sesuatu yang berarti dalam hidupmu. Tak ada gunanya berkeluh kesah tentang siapa yang salah dan dipersalahkan. Lebih baik, petik kebahagiaan demi kebahagiaan dengan langkah sepasang kaki kecil yang kita miliki dengan penuh kepastian. Alam telah diijinkan menuntun kita dengan tangan-tangannya. Menapaklah dengan penuh percaya diri di muka bumi, karena jalan yang kita lalui sudah pasti. Jangan merasa kita tak bermakna dalam hidup, karena hanya akan menambah belenggu jiwa dalam menjalani sisa hidup kita. Percayalah, keadaan kita yang seperti ini bukan akhir dari segalanya. Tidak harus menyimpulkan, “Sepenggal perjalanan hidup yang telah kalah”.  Walaupun kita diperdaya keadaan hingga ambang batas kewajaran, semua tetap akan kembali menuju keteraturan lagi. Alam telah berulang kali mengajarkan tentang itu. Jauhkan telinga dari suara sumbang, karena hanya akan merusak alunan lembut puisi jiwa. Jangan biarkan hati kita ikut mengeras, karena hati ini adalah jendela rasa yang mampu membahagiakan jiwa kita. Pikiran kita tidak boleh terbelenggu keinginan semu yang menjerumuskan tanpa disadari.
Apakah sudah saatnya guru sejati harus berbicara lugas kepada kita? Menyadarkan kesombongan yang telah menutup mata hati dan pikiran kita selama ini. Kita telah melupakan, bahwa alam ini adalah buku pelajaran hidup yang nyata dan tidak sia-sia. Buku pelajaran yang tulisannya indah dan bahasanya yang jelas telah mempertajam pesan yang tersirat maupun yang tersurat bagi jiwa-jiwa yang hidup. Sekarang lihatlah, guru sejati sudah tidak banyak bicara, karena kita tidak mau mendengar lagi nasihatnya. Semua lukisan kehidupan untuk kita telah kabur warnanya. Setiap mata semakin sulit menangkap pesan keagungan-Nya. Karena, kita terlanjur ditelan keangkuhan semu, kita merasa sudah terlalu mengerti, sehingga tidak mau membaca setiap ayat-Nya yang ada di balik wajah guru sejati yang terhampar luas di depan kita. Sungguh kita telah mati dalam hidup selama ini.