BAB
I
GURU
KEHIDUPAN
Bagaimanakah
caranya agar jiwa kita tidak terbelenggu pikiran dan perasaan ? Sehingga jiwa
bisa tenang dan mensyukuri keberadaannya sebagai manusia. Kita harus belajar
dari seorang guru yang memahami hakiki kehidupan. Lalu, siapakah guru itu? Secara
etimologi kata guru berasal dari bahasa India yang berarti seseorang yang mampu
memberi pelajaran tentang bagaimana cara lepas dari kesengsaraan. Status sosial
orang sengsara bukan hanya terbatasnya tempat tinggal, makan, pakaian,
finansial dan tidak bisa bersenang-senang. Tetapi juga terbelenggunya jiwa oleh
pikiran dan perasaan dirinya sehingga tidak bisa hidup layaknya manusia
merdeka. Dalam falsafah Jawa juga dijelaskan
bahwa, guru sebagai sosok tauladan yang harus “digugu lan ditiru”. Digugu
artinya bisa diikuti setiap nasihatnya, lan
artinya dan (kata sambung dalam bahasa indonesia), serta ditiru artinya bisa diteladani setiap tingkah lakunya. Jadi, guru
merupakan sosok manusia yang mempunyai multi talenta dan bertanggung jawab atas
profesinya.
Apakah
guru yang berkarakter dan mempunyai multi talenta masih bisa kita temukan di saat
ini? Tentu saja masih ada, meskipun tinggal sedikit, dan sebagian besar hanya sebatas
niat menjadi guru, tetapi fungsinya tidak lagi ideal. Kriteria guru ideal yang kharismatik
di hadapan muridnya sudah mulai sulit didapatkan. Perannya mulai terkikis oleh proses
pergeseran nilai-nilai budaya dan peradaban antar bangsa. Keberadaan guru dan fungsinya
telah banyak digantikan oleh teknologi
modern. Sekarang ini, Guru bukanlah
satu-satunya sumber inspirasi dan agen perubahan bagi pelajar. Lihatlah kondisi
masyarakat di sekitar kita, nilai-nilai budaya baru mulai bermunculan dan menutupi
nilai budaya kita yang telah lama membumi. Budaya kita yang selama ini dikagumi
bangsa di dunia, kini semakin pudar, terdesak dan jatuh satu per satu tak bisa
bangkit, bahkan ada yang telah terkubur dan sulit dikenali lagi. Kehilangan
nilai tersebut akan nampak jelas pada pelajar yang berada di lingkungan perkotaan.
Mereka semakin sulit mengenali dan
membedakan antara nilai-nilai budaya sendiri dan asing. Padahal kebudayaan
sendiri telah tumbuh bersama dirinya. Kemana hilangnya pesan mulia yang telah
disampaikan guru-guru kita selama ini? Pesan
mulia telah terabaikan sia-sia dan jatuh
ke dasar jiwa-jiwa yang tak memahami arti kehidupan.
Kita
sesungguhnya telah termatikan dalam hidup. Kita telah dibuat menjadi penonton
yang pasif dalam menjalani kehidupan. Hanya sebatas melihat, mendengar, namun
tidak bisa berbuat apa-apa. Lihat dan lihatlah tayangan TV, surat kabar,
internet, dan media elektronik lainnya, semua telah memperjelas, bahwa pesan
guru yang sarat nasihat tidak sampai tujuan. Setiap tayangan mencerminkan kenyataan,
bahwa proses pendidikan tidak berjalan baik. Sudut pandang pelajar dan guru
semakin beragam dan sulit dipertemukan. Visi dan misi antar generasi sudah tidak
sejalan arah dan tujuannya.Tongkat estafet dari tangan-tangan pendahulu kita yang
mengandung pesan mulia dan menyejukkan jiwa tidak bisa berlanjut sempurna. Hembusan
kebebasan berbudaya dan berpikir telah jauh merasuki alam bawah sadar para pelajar.
Para pelajar bebas mengambil apa dan siapa saja sebagai guru. Yang penting
sesuai jalan pikiran dan bermanfaat untuk dirinya, tanpa memikirkan efek yang
ditimbulkan bagi yang lain. Jika demikian, secara tidak langsung peran guru dan
pelajar semakin tidak kondusif. Proses pendidikan telah kehilangan jati diri ditelan
perubahan zaman. Guru dan pelajar semakin kurang percaya diri dalam menjalankan
profesinya. Proses pendidikan dan pembelajaran antara guru dan pelajar hanya
sebatas formalitas yang dipaksakan tetapi sesungguhnya roh pendidikan kita telah
jauh terseret arus globalisasi peradaban. Kita tak kuasa untuk menolak dan menghindarinya.
Arus globalisasi begitu kuat untuk dihentikan dan membawa dampak perubahan tata
kehidupan yang begitu cepat. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi.
Kita telah terjebak dalam kegelapan hidup. Maka kita harus menemukan cahaya yang bisa
menembus kegelapan jiwa. Cahaya itu akan menjadi pemandu hidup yang siap
mengajarkan segenap kemampuan dan memberi kejelasan arah untuk mencapai tujuan hidup
hakiki.
Belajar
kepada guru sejati yang mempunyai multi talenta, sangat arif dan bijaksana
adalah salah satu pilihan yang harus kita ambil. Guru sejati itu adalah “Alam dengan Segenap Fenomenanya”. Alam
secara langsung akan menyampaikan pengetahuan kepada kita dengan caranya. Setiap
fenomena yang kita lihat dan alami adalah pertanyaan yang harus kita jawab.
Alam sebagai guru sejati akan menginspirasi pikiran dan hati kita, sehingga kita
disadarkan untuk membaca dan memahami dengan baik. Alam tanpa diminta akan mengantar
dan membimbing kita mencapai kedewasaan diri. Jika demikian, jiwa kita akan
terlayani dengan baik. Pikiran dan perasaan kita bisa berkreasi dan berfantasi
secara bebas dalam keterbatasannya masing-masing, dan tidak terbelenggu oleh sesuatu
yang tidak perlu. Jati diri menjadi kuat, pribadi yang berkarakter akan tumbuh
dalam sikap kemandirian, dan tidak mudah terombang-ambing keadaan.
Bagaimanakah
cara yang tepat untuk menyikapi keadaan yang sudah seperti ini ? Untuk
menyikapinya, kita harus berjiwa besar dalam menjalani setiap peran. Terus
berbuat yang bermanfaat sebagaimana matahari yang bergerak dinamis menyapa
setiap jiwa yang merindukan kehidupan. Berpikir yang luas dan menyeluruh
tentang sesuatu, sebagaimana kita melihat bumi sebagai bola. Tentu saja tidak
cukup dari satu sudut pandang saja untuk mendapatkan kesan keseluruhan. Kita
harus melihat dari arah pandang yang berbeda sehingga memperoleh kesan utuh bumi
sebagai bola. Berjiwa besar harus bisa mendengar aspirasi, menerima masukan,
cepat tanggap dalam mengambil keputusan yang sesuai harapan. Alam dengan sejuta
peristiwanya telah mengajarkan pada kita. Apakah kita menyadari atau tidak,
alam telah melakukan semuanya kepada kita dengan baik. Jika demikian, kita sekarang
harus belajar dari fenomena alam, agar tahu arah dan tujuan hidup. Terus belajar
kepada alam, karena pelajarannya tidak akan pernah habis dan usang. Alam tidak
akan bosan memberikan pelajaran terbaiknya untuk kita. Rapatkan diri kepada
alam sebagai sahabat tempat berbagi rasa syukur, dan jagalah kelestariannya sebagai
wujud terimakasih kita.
Kita
harus saling berbagi agar di antara kita saling memahami, bahwa semua memang telah
berubah, namun tak perlu disesali. Kita harus berpikir revolusioner untuk
mengembalikan roh pendidikan yang telah terkikis peradaban selama ini.
Ke-Binekaan-an adalah kenyataan yang harus diterima sebagai bagian dari bangsa
kita. Perbedaan bukanlah halangan untuk berubah lebih baik. Kita harus bisa
mengubah cara pandang, bahwa perbedaan bukan penyebab munculnya permasalahan.
Itu harus diluruskan, karena perbedaan adalah rahmat dari Tuhan. Dengan
kehendak-Nya, semua telah diciptakan tidak ada yang sama, maka semestinya membenahi
pola pikir untuk menyesuaikan keadaan, agar kehidupan kita selaras dengan
kehendak Tuhan.
Kita
harus sama-sama belajar menyikapi keadaan ini. Jangan mudah putus asa, tetaplah
menjalani peran hidup sebatas kemampuan sambil terus mencari sesuatu yang
berarti dalam hidupmu. Tak ada gunanya berkeluh kesah tentang siapa yang salah
dan dipersalahkan. Lebih baik, petik kebahagiaan demi kebahagiaan dengan langkah
sepasang kaki kecil yang kita miliki dengan penuh kepastian. Alam telah
diijinkan menuntun kita dengan tangan-tangannya. Menapaklah dengan penuh
percaya diri di muka bumi, karena jalan yang kita lalui sudah pasti. Jangan merasa
kita tak bermakna dalam hidup, karena hanya akan menambah belenggu jiwa dalam
menjalani sisa hidup kita. Percayalah, keadaan kita yang seperti ini bukan
akhir dari segalanya. Tidak harus menyimpulkan, “Sepenggal perjalanan hidup
yang telah kalah”. Walaupun kita
diperdaya keadaan hingga ambang batas kewajaran, semua tetap akan kembali
menuju keteraturan lagi. Alam telah berulang kali mengajarkan tentang itu. Jauhkan
telinga dari suara sumbang, karena hanya akan merusak alunan lembut puisi jiwa.
Jangan biarkan hati kita ikut mengeras, karena hati ini adalah jendela rasa
yang mampu membahagiakan jiwa kita. Pikiran kita tidak boleh terbelenggu
keinginan semu yang menjerumuskan tanpa disadari.
Apakah
sudah saatnya guru sejati harus berbicara lugas kepada kita? Menyadarkan kesombongan
yang telah menutup mata hati dan pikiran kita selama ini. Kita telah melupakan,
bahwa alam ini adalah buku pelajaran hidup yang nyata dan tidak sia-sia. Buku
pelajaran yang tulisannya indah dan bahasanya yang jelas telah mempertajam
pesan yang tersirat maupun yang tersurat bagi jiwa-jiwa yang hidup. Sekarang
lihatlah, guru sejati sudah tidak banyak bicara, karena kita tidak mau mendengar
lagi nasihatnya. Semua lukisan kehidupan untuk kita telah kabur warnanya. Setiap
mata semakin sulit menangkap pesan keagungan-Nya. Karena, kita terlanjur
ditelan keangkuhan semu, kita merasa sudah terlalu mengerti, sehingga tidak mau
membaca setiap ayat-Nya yang ada di balik wajah guru sejati yang terhampar luas
di depan kita. Sungguh kita telah mati dalam hidup selama ini.